Marriage is not 50:50, divorce is 50:50. Marriage has to be 100:100. It isn't dividing everything in half, but giving everything you've got!
Tulisan ini merupakan refleksi pribadi gua kenapa sampai usia 28 tahun gua belum nikah! Sengaja gua tulis untuk mempermudah apabila suatu saat orang-orang terdekat gua ada yang bertanya, tinggal gua kasih linknya aja!
Kenalin, gua Musa, pemuda hampir-mapan yang masih betah menjomblo sampai usia 28 tahun. Gua berasal dari keluarga miskin di suatu perkampungan terpencil kota tahu campur daerah pantai utara Jawa. Dari kecil, gua terkenal berbeda dan sangat “nerd” untuk ukuran anak kampung. Tempaan kehidupan keras sejak kecil membuat gua sangat mendiri serta ambisius dalam menggapai cita. Hal ini membuat gua selalu mendapat peringkat teratas di sekolah dan mendapat beasiswa dari TK sampe kuliah S2 di Britania Raya. Well, Gua bakal fokus tentang kehidupan romansa gua yang tak seberuntung rute akademik dan karir gua!
Kenapa gua belum kawin? Lebih dari 139 pertanyaan gua dapatkan dari sanak keluarga dan handai taulan selama lebaran Idul Fitri 1439 H. Tentu hal ini membuat keluarga ini dan teman-teman dekan gua bertanya-tanya. “Musa, lo mau nyari yang gimana sih? Udahlah, ga akan ada yang sempurna di dunia ini. Saatnya lo menata keluarga demi masa depan lo!” kata temen gua sekenanya. Well, sekedar informasi, teman-teman gua di kampung hampir semuanya sudah menikah sejak satu-dua-tahun lulus SMA. Saat ini, hampir semua sudah berkembang biak, beberapa uda ada yang masuk SD, bahkan uda ada yang sempet kawin-cerai-kawin dan beranak-pinak sampai tiga ekor guys! Lha gua? Cuma bisa nyengir kayak quda ketika ditanya “kapan kawin?”. Benar-benar berasa menjadi makhluk Tuhan paling hina sedunia dah kalau belum menikah padahal kata mereka sudah waktunya.
Selama gua hidup di dunia (sampai saat ini), gua baru deket dengan yang namanya lawan jenis itu cuman dua kali. Pertama, cinta monyet jaman SMA yang sempet jadian sekitar 1.5 tahun dan memutuskan berpisah menjelang Ujian Nasional. “Supaya fokus belajar” begitulah kesepakatan kami waktu itu. “Kalau jodoh, nanti juga bakal ketemu kok. Toh kita putus baik-baik, ga ada masalah.” Kalimat terusannya. Kalau tidak ada masalah, kenapa putus? Emang ada ya, putus baik-baik? Gua sadar gua cuman manfaatin status aja waktu SMA, tidak benar-benar menyayangi doi. Sebagai Siswa Berprestasi nomor satu di kota gua, cocok dong gandengan ama duta wisata, cewek paling hits. Apalagi gua uda tau dia naksir ama gua dari sahabatnya. Itu pikiran simpel gua. Ga tau gimana dia nganggepnya waktu itu. Well, tolong dicatet, itu hanya salah satu masa jahiliyah jaman SMA. Seorang anak kampung yang baru terbebas dari kehidupan relijius-konvensional di desa, kemudian berkesempatan melihat gemerlapnya kota dan bersekolah di SMA negeri terbaik daerahnya. Kalau ingat masa itu, nyengir sendiri dah! Kemudian gua tobat ketika masuk kuliah dan kembali ke ideologi “Pantang pacaran sebelum halal”.
Mindset itu masih gua pegang sampai sekarang! Gua merasa memang pergaulan cowok-cewek itu harus dibentengi setinggi-tingginya, takut terjadi “hal-hal yang diinginkan”. Di tengah kehidupan hedonis dan modern Eropa, gua masih berusaha menjaga kemaluan gua. Gua mengenal proses taaruf pertama kali dengan Sara, mahasiswa pascasarjana di kota sebelah. Ia cantik, bahkan sangat cantik menurut teman-teman terbatas gua. I cerdas, sangat cerdas bahkan, semua nilainya sempurna! Ia putri satu-satunya dari keluarga terpandang di Jogja dan ayahnya yang sangat terpandang dan memunyai kedudukan di salah satu kampus terbaik Indonesia sangat mencintainya. Ia sangat elegan dalam berperilaku. Lucunya, ia merupakan adik dari temen gua yang tak sengaja kenal di Singapore ketika jaman student exchange jaman undergraduate dulu. Dan tentu saja, dari semua kesempurnaan dan kesediaan dia menerima gua, AGAMA tetaplah yang utama. Gini-gini gua masih menjadikan Rasulullah sebagai referensi lho! nyari calon pasangan lihat agamanya dulu guys! Terkadang, gua mikir kalau gua sangat egois apabila memperjuangkan hubungan ini. Gua dapat bidadari, doi cuma dapat ampas macam gua! Hahaha.
Hal paling mendasar, di luar standar dalam beragama, kami merasa nyaman satu sama lain walau hanya dua kali tatap muka sebelum gua menemui ortunya. Kami sangat terbuka dan mengeluarkan semua data dan fakta pribadi sebagai proses taaruf. Satu fakta yang membuat gua mau meneruskan proses dengan doi adalah, ia dapat memahami dengan problem isu mental gua, yaitu lack of trust! FYI, gua menjalani kehidupan keras dan keluarga yang complicated sehingga membentuk gua menjadi pribadi super mandiri dan tidak mudah percaya sama orang lain, even I have no trust in my parents though! Lack of trust issue ini berdampak pada hal yang sangat krusial dalam percintaan, GUA SULIT JATUH CINTA! Bahkan dengan si Sara yang nyaris sempurna itu, gua menyatakan terang-terangan belum jatuh cinta dan bakal belajar jatuh cinta kalau sudah halal. Please note, sulit jatuh cinta bukan berarti ga punya nafsu ya! Nafsu gua gedhe banget, bahkan frekuensi mimpi basah gua bisa lima kali dalam seminggu. Gimana ga cepet abis coba tuh shampoo! Untungnya, gua bisa jaga kemaluan ga cuma pake isu fundalitas-agama, tapi juga pake tameng trust issue gua!
Selain isu kepercayaan, gua juga punya isu besar yang tak kalah vital. Gua terdiagnosa menderita Hepatitis B kronis sejak kuliah. Gua ga tau dari mana penyakit terkutuk ini berkemah di dalam hati gua, padahal gua rajin donor darah sejak SMA, bahkan menjadi petugas Palang Merah Remaja. Penyakit ini juga pernah membuat gua depresi tahun 2013, ketika gua baru selesai wisuda. Bisa kalian bayangkan, seorang wisudawan terbaik di kampusnya yang sangat potensial menjadi karyawan di perusahaan multinasional sehingga dapat mengangkat martabat keluarga gua di kampung (Well, ukuran sukses di kampung itu masih materi), ia mengikuti tes perusahaan besar dan dinyatakan gagal di fase terakhir, medical check-up, ketika sudah deal gaji. Gua depresi, sebulan ga keluar kamar. Ini adalah depresi kesekian gua, namun tak pernah gua kepikiran untuk suicidal lho! Gua hanya pergi ke masjid dan mencari makan kalau laparnya keterlaluan. Tuh kan, depresi aja gua masih ingat masjid HAHAHA. Setelah mengurung diri sebulan, gua melampiaskan kekesalan gua dengan mengikuti banyak job fair dan proses recruitment dan beberapa perusahaan besar, namun gua ilang tanpa kabar ketika sudah memasuki tes kesehatan atau tanda tangan kontrak. Gua sadar, itu jahat banget! Di saat orang lain mati-matian kompetisi mencari kerja, gua malah balas dendam dengan cara yang sangat tidak bijak. Namun gua akui, cara itu sangat ampuh mengatasi kekesalan gua terhadap isu rasisme-terhadap penderita hepatitis di negeri ini. Gua ga pernah mikir bakal dapat blacklist personal maupun universitas yang berdampak pada adek-adek gua. Long story short, gua berhasil coping depresi itu.
Kembali ke kisah romansa-gagal gua, gua memutuskan pulang ke Indonesia ketika Ramadan tahun lalu untuk menyatakan keseriusan gua dengan si Sara. Ternyata, dengan alasan penelitian juga, doi ikutan mudik ke Indonesia dan menemani gua menemui ortunya. Gua sangat terkesan dengan kehidupan elit keluarganya dan masih sangat terbuka dengan pemuda kere seperti gua. Tak disangka, satu-satunya isu yang menjadi perhatian bokapnya adalah riwayat kesehatan gua. Ya, gua sadar sih, Hepatitis itu penyakit serius bagaikan bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Selain itu, orang tuanya sangat menyambut gua dengan tangan terbuka. Bahkan nyokapnya sangat menyukai gua karena sesuai dengan profil ya ia pinta ke putrinya; seorang pemuda desa yang potensial menjadi orang besar dan berjuang memperoleh citanya benar-benar dari bawah. Ia ingin putrinya merasakan asam-garam kehidupan bersama orang yang tangguh, karena dari lahir semua kehidupan elit sudah ia dapat dari mereka. Kembali lagi ke isu medis, bokapnya bilang bakal memikirkan hal itu sambil jalan. Ia akan memberikan kepastian pasca ibadah haji dua yang akan dilaksanakan bulan lagi. Kebetulan kedua orang tuanya akan berangkat tahun itu setelah menunggu beberapa tahun. Kebetulan lainnya, gua juga akan melaksanakan ibadah haji di waktu yang sama! Gua pun sepakat dengan pertimbangan bokapnya, gua juga bakal fokus istikhara di tanah suci. Ketika kami baru deal, Sara bahkan sudah memulai proses vaksinasi Hepatitis B ketika kami awal taaruf lho! Apapun jawaban bokapnya, tak ada ruginya ia melakukan vaksin itu, begitu katanya. Sebuah langkah antisipasi yang futuristik!
Singkat cerita, pasca ibadah haji dan setelah kami menyelesaikan studi kami di negeri para raja itu, ia menyatakan kalau bokapnya keberatan dengan simpanan penyakit gua. Gua paham, sangat paham bahkan, tidak mudah menerima hal tersebut. Gua aja butuh waktu dua tahun untuk benar-benar menerima penyakit ini sebagai bagian dari kehidupan gua, bagaimana dengan si doi yang dari kecil diperlakukan seperti princess oleh bokapnya? Tentu, seorang bokap pasti pengen yang terbaik bagi putrinya. Termasuk jodoh, bak pangeran tampan berkuda putih yang siap membawa putrinya menuju ridha-Nya. Gua semakin kagum dengan si Sara. Dari awal ia menerima segala kekurangan dan kenjomplangan latar belakang sosial-ekonomi kami. Bahkan, ia memilih tidak euro-trip dan menunda operasi minus-matanya demi menambah tabungan untuk membeli rumah di kota tempat gua pengen tinggal. Seriusan! Ia bahkan sudah meminta ijin gua untuk menerima persiapan dia supaya gua ga salah terima sebagai egoisme seorang pria. Di lain sisi, gua uda menyatakan gua bakal bokek ketika pulang ke Indonesia karena tabungan gua selama ini akan gua gunain buat ibadah haji dari Britania. DIA MENDUKUNG GUA!!! Terima kasih Sara, gua belajar banyak!
Pelajaran yang gua dapat dari proses taaruf
Pertama, gua sadar bahwa penderita Hepatitis B itu tak cuma dapat perlakuan rasis di perusahaan, tapi juga diskriminasi di mata calon mertua. Well, gua ga menyalahkan mereka kok! Mereka cuma pengen yang terbaik bagi orang kesayangan mereka. Gua pun butuh waktu dua tahun untuk menerimanya dengan utuh, sebagaimana gua menerima penolakan tak berdarah ini. Pengalaman ini terkadang membuat gua untuk berpikir: Apakah gua tak perlu menyebutkan riwayat medis gua ketika taaruf? Naudzubillah, ini pemikiran jahat! Bagaimana tidak memberitahu calon istri padahal ia harus mendapatkan vaksinasi. Bukankah salah satu penularan virus ini lewat hubungan seks? Okay, gua perbaiki pernyataan gua: Apakah gua tidak perlu memberitahu riwayat penyakit ini kecuali kalau ditanya? :D
Kedua, Gua sadar peristiwa ini semakin memperburuk trust isu gua selama ini! Gua semakin sulit terbuka dan skeptis kepada orang lain. Untuk mengangkat isu penyakit itu ke orang lain, dibutuhkan mental dan kepercayaan yang kuat. Ketika hal itu gagal, jujur mental gua hancur. Semakin ga percaya ama orang! Gua sulit percaya kalo orang dapat menerima taqdir sebagaiaman gua menerima semua ini. Kelahiran, kematian, jodoh, rizqi, bukankah sudah ditaqdirkan? Kenapa harus takut mati dengan penyakit tertentu kalau kita tahu semua makhluk juga bakal mati? Bukahkah seorang yang sehat pun dapat meninggal dengan cara yang tak disangka-sangka? Ga percaya? Coba aja download salah satu game favorit gua, DUMB WAY TO DIE!
Comments
Post a Comment