Skip to main content

Home (3)

“If you experience any emotion like frustration, hesitation or anger while planning your dream life , means you need to clear some mental blocks.” 
Tak terasa, hampir empat tahun Musa menimba ilmu di kampus Desain. Sebagai mahasiswa yang sudah mandiri sejak kecil dan tidak menggantungan finansial kepada orang tua sejak SMA, tak terhitung jumlah keringat dan air mata yang ia keluarkan. Saat ini ia baru menyelesaikan Tugas Akhir untuk melalui sidang skripsinya. Sungguh perjuangan yang tak mudah, tapi tak mustahil pula. Sebagai delegasi Mahasiswa Berprestasi kampus desain tahun lalu, serta berbagai prestasi yang pernah ia raih, ia merupakan kandidat kuat sebagai Student of the year, wisudawan terbaik. Pesta kelulusan akan digelar minggu depan, tinggal menghitung hari.

Suatu hari, ia dihubungi oleh seorang reporter surat kabar lokal untuk membuat profil inspirasi perjuangan seorang Musa, namanya Muhid. Mereka menyepakati untuk bertemu di sebuah kafe Jumat sore. Sepulang Sholat Jumat, Musa pun bergegas menarik sepeda motornya menuju tempat yang sudah mereka sepakati. Musa berangkat dari asrama mahasiswa yang tak jauh dari kampusnya. Tiba-tiba, sahabat terdekat Musa di asrama mendekat dan menyapanya.
“Bro, mau ke kafe kampus kan? bareng yuk, nebeng!” Pinta Idris tanpa basa-basi.
“Boleh! memang kamu ada janjian dengan seseorang juga di sana ya?” Tanya Musa kepada sahabatnya.
“Iya, dong! Sebagai fresh graduate prestatif, sohibmu ini baru tanda tangan kontrak kerja walaupun wisuda masih minggu depan. Yuk, aku traktir sop buah kesayanganmu di sana” Idris menyombongkan dirinya dengan konyol.
“Siap Bos! berangkat!” Jawab Musa sambil menyalakan motornya.

Setelah sampai kafe, Idris memesan dua porsi sop buah jumbo untuk menyenangkan hati sahabatnya. Sambil menikmati sop buah segar dan candaan konyolnya, sesekali Musa melihat jam tangan murahan yang dibelinya di pasar barang bekas. Ia terlihat cemas menunggu Muhid yang mengajaknya ketemuan tapi tak kunjung datang pada waktu yang dijanjikan.
“Nungguin siapa sih Bro? serius amat!” Idris bertanya.
“Nungguin reporter yang ngajak ketemuan nih Bro, sekarang uda tiba waktu yang ditentukan tapi ia belum nongol juga. Kamu sendiri nungguin siapa? Katanya mau ketemu orang juga?” sahutnya.
“Hahaha, iya ini. Aku mau ketemu sama sesosok manusia inspiratif yang mau aku tulis di artikel surat kabarku,” Jawab Idris sambil mengeluarkan nametag kerjanya. Terlihat sebuah foto pemuda tampan berkulit putih langsat dan jenggot kambingnya. Di bawah foto itu tertulis nama, Muhammad Idris, Reporter Junior. Ia sengaja mengeluarkan nametag untuk memamerkan kepada sahabatnya itu. Tak lama, Musa menelpon nomor Muhid. Lucunya, ponsel baru Idris dual sim keluaran terbaru yang dibeli dua hari lalu itu berbunyi.
“Owalaaaahhh… wedhus!” Musa menyumpahi sahabatnya sambil memukul bahunya keras-keras.
“Sejak kapan kamu berganti nama, Bro?” Ia melanjutkan
“Kamu aja kali yang ga peka. Muhammad Idris, disingkat jadi Muhid. Itu nama penaku sekarang.” Jelas Idris
“Okey Mas Muhid, apakah wawancara kita sudah dapat dimulai?” Sindir Musa ketus. Ia merasa sukses dikerjain temannya itu.
“Duh ketus amat Mas Inspiratif satu ini. Senyum dong, nanti otot mukanya ga bisa balik lho hahahaha. aku mau nulis profil kamu, tapi mau fokus tentang bagaimana cara mengatasi Mental Block ala Musa ya!” Jelas Idris.
“Mental Block itu apanya Paving Block? saudaranya?” sindir Musa garing.
“Yuk ah, seriusan. Mental Block itu semacam sebuah energi negatif yang mengajak hati untuk meragukan kemampuan diri. Sebuah hambatan mental dan psikologis yang melarang kita mengeluarkan kemampuan terbaik kita. Sehingga, ujung-ujungnya berbuah kegagalan. Biasanya mental block ini berupa bisikan-bisikan dalam hati, entah dari diri kita sendiri maupun dari lingkungan eksternal. Sampai di sini sudah paham kan?” Idris menjelaskan singkat.
“Lalu, apa hubungannya denganku Bro?” Musa kebingungan.
“Tidak semua orang dilahirkan dengan mental yang kuat. Ada sebagian orang yang terlahir bermental lemah yang merasa tak dapat melakukan segala sesuatu dengan baik. Merekalah para penderita mental block. Nah, beberapa tahun mengenalmu di asrama, aku rasa sedikit pengalaman darimu tentang cara melawan mental block pasti akan menginspirasi pembaca. Aku tahu, kamu melewati banyak hal sulit tapi dapat melampaui hal itu semua sampai kamu dapat berdiri pada posisi sekarang.” Jelas Idris.

“Hmmm, sebenarnya aku bingung mau menjawab apa Hahaha. Yang aku yakini, Tuhan tak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Tuhan juga menciptakan Manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk ciptaan dan dibekali dengan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Otomatis, dari dua promis tersebut, harusnya memang tak ada yang namanya mental block. Dan aku pun bingung, bagaimana cara mengatasinya. Aku sih selalu yakin kita dapat menjadi apapun yang kita inginkan,” Musa mencoba menjawab berdasarkan pengalaman.
“This is it! Ini yang menarik dari kamu. Bisa-bisanya ga takut gagal dan berani mencoba banyak hal. Aku rasa ada suatu hal yang memicu mindsetmu di awal sehingga kamu punya transformasi mindset seperti ini. Coba deh jelasin yang itu,” Idris memaksa.
“Apa yang mau ditakuti? Kenapa harus takut kehilangan kalau dari awal aku tak punya apa-apa? Kenapa harus takut gagal kalau dari awal aku bukanlah siapa-siapa. Aku berasal dari keluarga dengan ekonomi bawah, kehilangan kasih sayang sejak kecil, tidak ada yang menuntutku macam-macam. Sungguh, aku tak punya tekanan yang membuatku terkena mental block,” Musa terdiam. Ia masih mencoba berpikir kira-kira point apa yang sebenernya diinginkan sahabatnya.
“AHA! I got your point Bro! Bagiku, ada 3 point utama yang membuatku punya mindset seperti itu. Pertama, kenali diri sendiri dan belajar untuk menerimanya. Maksudnya, kita harus mengidentifikasi segala macam penyebab mental block yang membuat kita merasa tak nyaman. Misalnya, seperti yang aku ceritakan tadi. Aku tak takut gagal dan tak takut kehilangan karena memang aku berasal dari nol, tak punya apa-apa. Point yang paling susah adalah menerimanya,” Musa lalu terdiam.
“Mengapa menerima diri sendiri itu susah?” lanjut Idris.
“Karena sifat dasar manusia, sombong dan ego. Apabila ada kekurangan, otak kita secara psikologis akan menolaknya dan berusaha menunjukkan kepada dunia kalau kita tegar. Gengsi kita besar. Misal kasusku, ketika aku berasal dari keluarga miskin, pasti banyak yang berfikir mana mungkin dapat kuliah di bidang desain yang tentunya tidak murah? Karena aku menerima diriku yang demikian, ya aku maju saja mencoba masuk kampus, toh ga ada salahnya. Selama proses juga kamu tahu, aku kerja paruh waktu macam-macam. Mulai dari mengordinir fotokopi buku dan peralatan menggambar teman sekelas sampai menjadi wartawan di luar jam kuliah. Kalau manusia sudah mendahulukan egonya, yang dipikirkan di awal adalah gengsinya yang besar dan mengakibatkan banyak kekhawatiran. Itu maksudku,” Musa menjelasan dengan semangat.
“Nice shot Bro! lalu poin berikutnya apa?” Idris melanjutkan pertanyaan.
“Visualisasi mimpi! Sungguh, apabila punya mimpi, visualisasi adalah cara paling ampuh untuk memanipulasi mindset kita agar selalu terpacu untuk mendapatkan mimpi itu. Oia, wujud visualisasi mimpi itu bermacam-macam. contoh paling mainstream dan mudah adalah DREAM NOTE! yaitu membuat catatan-catatan mimpi, kemudian ditempel di kamar atau ditaruh di dompet supaya dapat mengingatkan kita setiap hari. Bentuk media yang lebih advanced ya video. Ilustrasi gambar gerak disertai dengan musik itu yang paling efektif. Menurut sebuah penelitian, kombinasi audio-visual merupakan cara paling ampuh untuk memotivasi kerja otak. Nah, kebetulan kan kita di asrama yang sama, dan juga mendapat tugas visualisasi mimpi sejak pertama kita masuk kan? Kita sangat beruntung lho! hal itu benar-benar memicu kita untuk berani bermimpi dan membekukan mental blocks!”. Jelas Musa.
“Masuk pointmu Bro! aku sudah menangkapnya. Kalau point terakhir?” Idris melanjutkan pertanyaan berikutnya.
“Berkumpullah dengan orang-orang positif dan punya antibodi-mental blocks secara alami. Berteman dengaku misalnya. Hahahaha. Bukankah kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan tertular harumnya? Aku bersyukur, selama kuliah, Allah memberiku kesempatan berkumpul dengan orang-orang hebat di asrama mahasiswa yang selalu memompa adrenalinku dengan optimal,” Musa berapi-api menjelaskan poin ini.
“Uwuwuwu, aku jadi tersanjung. Eh tapi, aku rasa kamu sudah punya mekanisme anti-mental blocks dari dulu deh. Kalau boleh tahu, siapa sahabatmu sebelum kuliah yang selalu membuatmu positif dan menjadi versi terbaik dari dirimu?” lanjut Idris.
“Yusuf. kami dulu satu SMA, bahkan kami sempat kuliah di kampus dan jurusan yang sama selama dua minggu pengkaderan. Tapi karena ia ketrima di STAN, ia memilih pindah untuk kebaikan masa depan dan menyenangkan hati orang tuanya. Dan sekarang, aku punya kamu Idris, seseorang yang membuatku nyaman dan berasa seperti keluarga sendiri. Terimakasih ya sudah menjadi sahabatku,” Ucapan Musa ini membuat suasana menjadi haru Idris.
“kembali kasih pula, kamu sudah menjadi sumber mekanisme anti-mental blocksku selama ini. Jujur saja, semua pencapaianmu itu membuatku berpikir ulang bahwa tak ada sesuatu yang tak mungkin. Terimakasih ya Musa,” tutup Idris.
"Don’t let mental block control you. Set yourself free. Confront your fear and turn the mental blocks into building blocks"

Comments

Popular posts from this blog

Home (2)

Strength doesn’t come from what you can do. It comes from overcoming the things you think once you couldn’t. “Musa, you are the MVP! (Most Valuable Person) Selamat ya! Kamu terpilih sebagai lulusan terbaik SMA tahun 2008.” Yusuf memberi selamat kepada sahabatnya seraya memeluknya dengan erat. Belum sempat menjawab, Yusuf memperkuat pelukannya seraya berteriak di telinga Musa “YEAY! Konsep “Rumah” untuk pentas seni tahun ini mendapat penghargaan sebagai konsep terbaik sepanjang masa! Kamu memang terbaik Musa! Aku bangga sekali padamu.” “Alhamdulillah, aku bukan siapa-siapa tanpa kamu dan teman-teman lain yang mendukungku Bro! Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan konsep ini kalau kalian semua tidak membantuku mewujudkannya.” Jawab Musa dengan rendah hati, tak sedikitpun terlihat sombong dengan segala pencapaiannya di hari spesial itu. “Ah kamu ini pasti ya, merendah mulu. By the way, kok kamu tadi mengambil piala ke panggung sendirian? Kemarin juga mengambil raport sekolah send...

Home (1)

"You don't choose your family. They are God's gift to you as you are to them" Minggu pagi yang cerah, Matahari menebar secercah harapan hangat. Ia seakan mengusir rasa dingin akibat hujan badai tadi malam. Beberapa pohon tumbang di sepanjang jalan. Untungnya, masyarakat kompleks Sacharosa masih sadar hakikat gotong royong dan segera menyingkirkan hambatan jalan. Tidak biasanya, hujan dan angin ribut sampai mematahkan pohon-pohon pemagar jalan. Musa, seorang anak kelas 3 SMA mengayuh sepedanya dan bergegas menuju gedung sekolah untuk mengerjakan proyek seni akhir tahun. Ia mendapat amanah sebagai penanggung jawab dekorasi acara tahunan paling meriah di sekolah maha hits di kota itu. Bersama teman-temannya, ia membuat konsep yang spektakuler yang belum pernah ada, “Rumah”. Ia mengerjakan dekorasi musikalisasi drama bertema “rumah”, yang menceritakan semua anak lulusan sekolah itu harus bertebaran di seluruh bumi untuk menggapai makna sukses versi terbaiknya, kemudi...