Skip to main content

Home (2)

Strength doesn’t come from what you can do. It comes from overcoming the things you think once you couldn’t.
“Musa, you are the MVP! (Most Valuable Person) Selamat ya! Kamu terpilih sebagai lulusan terbaik SMA tahun 2008.” Yusuf memberi selamat kepada sahabatnya seraya memeluknya dengan erat.
Belum sempat menjawab, Yusuf memperkuat pelukannya seraya berteriak di telinga Musa “YEAY! Konsep “Rumah” untuk pentas seni tahun ini mendapat penghargaan sebagai konsep terbaik sepanjang masa! Kamu memang terbaik Musa! Aku bangga sekali padamu.”
“Alhamdulillah, aku bukan siapa-siapa tanpa kamu dan teman-teman lain yang mendukungku Bro! Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan konsep ini kalau kalian semua tidak membantuku mewujudkannya.” Jawab Musa dengan rendah hati, tak sedikitpun terlihat sombong dengan segala pencapaiannya di hari spesial itu.
“Ah kamu ini pasti ya, merendah mulu. By the way, kok kamu tadi mengambil piala ke panggung sendirian? Kemarin juga mengambil raport sekolah sendiri. Orang tuamu ke mana?” Tanya Yusuf balik.
“Hmmm… lanjut ngobrol di kantin yuk! mumpung semua orang sedang berpesta di aula utama. Pasti kantinnya sepi, kita bisa ngobrol lebih seksama.” Musa mengandeng tangan sahabatnya menuju kantin sekolah.

Hari itu adalah hari pagelaran pentas seni tahunan sebagai puncak perayaan kelulusan siswa kelas 3 SMA. Sekolah membuat pesta besar-besaran di aula utama. Banyak pertunjukan seni digelar. Mulai dari tradisional dan modern dance, sampai musik band. Tema “rumah” yang si siapkan Musa dan tim membuat suasana hari itu semakin ceria dan sangat terasa kehangatannya, sampai dinobatkan menjadi tema terbaik sejak puluhan tahun diadakan pesta kelulusan di sekolah ini. Ironis, seorang yang bahkan tak tahu apa arti rumah dapat mengarahkan tim untuk membuat dekorasi terbaik sampai mendapat penghargaan bergengsi tersebut. Sesampainya di kantin, Musa memesan sop buah kesukaannya. Yusuf pun ikutan memesan menu serupa.

“Yusuf, apakah kamu menyadari kalau setiap pengambilan raport aku selalu mengambilnya sendiri, tanpa orang tua?” Musa membuka obrolan.
“Yup, aku tahu kok. Oleh sebab itu kamu selalu menunggu acara pembagian raport selesai, sehingga kamu dapat mengambilnya ke wali kelas kan?” Jawab Yusuf.
Musa mengangguk, dan terdiam.
“Hahaha, santai bro! aku nang mburimu jeh! Kan kapan hari kamu pernah cerita keadaan keluarga angkatmu. Aku mengerti kok. Sebenarnya ingin sekali aku membantumu, meminta orang tuaku sekalian mengambilkan raportmu. Tapi sepertinya kamu tidak butuh itu. Aku tahu kamu kuat dan dapat mengatasi semuanya sendiri.” Yusuf menambahkan.
“Terimakasih Bro! Untuk merayakan hari ini, aku mau menraktirmu! Silahkan ambil makanan sepuasnya! Hahaha” Musa mencoba mencairkan suasana haru.
Yusuf tahu bagaimana proses struggling Musa sampai di titik ini. Bahkan dia tahu bagaimana keadaan finansialnya. Ia masih membutuhkan uang gedung sebagai syarat masuk perguruan tinggi impiannya. Tapi masih bisa-bisanya ia menraktir sahabatnya. “Hei, Jangan sombong kamu ya! sahabat dari seorang lulusan terbaik di SMA hits dan siswa berprestasi di kota ini tak akan kalah! Kamu sudah tahu kan, minggu lalu aku terpilih sebagai juara pertama Duta Pariwisata kota kita? Hahahaha, ketampananku memang sangat mempesona, Bro! Seharusnya aku yang menraktirmu!” Yusuf mencoba menolak traktiran sahabatnya tanpa mengurangi rasa  hormat.
“Hmmm, Begini saja bro! Kamu nraktir aku karena terpilih sebagai Duta Wisata, aku nraktir kamu karena terpilih sebagai lulusan SMA terbaik. Bagaimana?” Balas Musa cerdas.
“Oke, DEAL!” Yusuf mengiyakan sambil menjabat erat tangan sahabatnya. Mereka berdua tertawa, merayakan kemenangan bersama. Tentu, tawa mereka tetap tawa tampan penuh ke-jaim-an. Maklum, mereka adalah duo combo hits SMA pada masanya. Beberapa cewek tak henti-hentinya memperhatikan mereka dari bilik kantin putri di warung sebelah.

“Oia, kapan hari kamu pernah berjanji kan mau melanjutkan hikayat makna rumah? Aku ingin mendengar kisah adopsimu dan bagaimana kamu melalui masa-masa berat itu.” Yusuf tetap kepo dengan kehidupan sahabatnya yang misterius. Ia sadar, Musa tak akan pernah cerita kalau tidak ditanya, seberat apapun permasalahannya. Ia memilih untuk diam.
“Once upon a time, ada sebuah kisah…” Musa mulai cerita dengan menirukan sebuah lagu dari BBB yang hits abis pada masanya. 
“Halah kelamaan! sudah ga sabar nih!” Yusuf menyelah sahabatnya.
“Hahahaha, duh, cowok paling ganteng sekabupaten dan menjadi idaman para wanita ini kok ga sabaran sih!” Ledek si Musa sambil mencubit kedua pipi sahabatnya dengan gemas.
“Menurut orang-orang, aku diadopsi sejak usia bayi 7 bulan. Bisa dilihat kan, saking minimalis komunikasinya, sampai info seperti ini saja apa kata tetangga, karena orang tua angkatku tidak pernah cerita dan tidak pernah berbicara kecuali menawarkan makanan, pada waktu makan” Musa membuka kisahnya.
“Wah masih kecil sekali dong. Umur 7 bulan bukannya masih dalam masa-masa konsumsi ASI inklusif ya?” Yusuf kepo maksimal.
“Nah itulah Bro, aku juga ga paham. Bagaimana aku ketika masih bayi bisa survive tanpa meminum ASI. Padahal ASI penting banget untuk membangun daya tahan tubuh dan membentuk imunitas dari berbagai penyakit. Selain itu, menurut ilmu psikologi, masa menyusui adalah masa-masa emas di mana kedekatan emosional dan ikatan batin ibu dan anak di bangun. Dari siniliah, aku menyadari betapa jauhnya kedekatanku dengan orang tua kandung. Menurut cerita sih, pengganti ASI bagi anak-anak kampung sepertiku bakal dikasih air tajin. Itu lho, air sisa masak nasi yang warnanya putih dan penuh dengan nutrisi. Boom! dikasih sedikit gula, jadilah pengganti susu yang sempurna! ya, walaupun tak sesempurna ASI sih,” Musa mencoba menjelaskan.
“Ya Allah, aku tak bisa membayangkan Bro. Emangnya orang tua angkatmu itu masih saudara kah sama orang tua kandungmu?” rasa ingin tahu Yusuf semakin menjadi.
“Nggak. Tidak ada hubungan darah sama sekali,” Jawab Musa.
“Lha terus? Kok bisa diadopsi? memangnya kamu itu diminta sama keluarga angkatmu? atau kamu dikasihkan oleh keluarga kandungmu?” Sahut Yusuf lagi.
“Ada dua versi yang berbeda sih bro. Menurut tetangga, orang tua angkatku mengalami hal mistis yang membuatnya merasa bahwa aku adalah anak kandungnya. Jadi, diceritakan kalau Ibu angkatku sempat pernah mengandung waktu itu, tapi janin di dalam perutnya tiba-tiba menghilang begitu saja. Tak lama kemudian, Ibu kandungku mengandung. Sehingga ia merasa berhak untuk mengakui kalau aku adalah anaknya. hal ini ia buktikan dengan wajahku yang katanya mirip dengannya. Sejujurnya, aku tidak terlalu percaya dengan versi pertama. Kenapa? Karena aku tahu beberapa fakta. Pertama, orang tua angkatku sempat beberapa kali mengadopsi anak dan gagal. Kejadian ini sebelum aku ada, bahkan terbentuk jadi janin. Kalau ia dapat mengandung, mengapa harus mengadopsi anak? Kedua, aku sama sekali tak pernah melihat adanya pembalut wanita di rumah. Bagaimana seorang wanita tua bisa mengandung kalau ia bahkan tak pernah mengalami datang bulan sejak masih muda? Aku rasa dua analisaku ini sudah sangat jelas mematahkan cerita versi pertama. Terkait bentuk muka, aku akui memang kami ada sedikit kemiripan. Tapi tetap, semirip-miripnya aku dengan wanita itu, aku lebih mirip dengan ayah kandungku lho!” Jelas Musa dengan nada sedikit kesal.
“Kalau versi kedua bagaimana bunyinya Bro?” tanya Yusuf lagi.
“Pernah suatu hari aku bertanya kepada orang tua kandungku. Mengapa mereka begitu tega memberikanku kepada orang lain yang sama sekali tidak lebih baik dari sisi finansial, keilmuan, emosional, bahkan kematangan spiritual? Bukankah itu sama saja dengan membuangku ke tempat yang lebih buruk? Walaupun, keadaan ekonomi orang tua kandungku juga tidak jauh lebih baik. Rumah kayu biasa dengan alas tanah serta satu ruang tidur utama untuk kelima anaknya yang masih kecil dengan jarak lahir satu sampai dua tahun,” Musa mencoba menjelaskan.
“Lalu, apa jawaban mereka?” Yusuf harap-harap cemas. Ia penasaran alasan apa yang bakal dilontarkan orang tuanya.
“Mereka bersaksi tidak pernah sekalipun menyatakan untuk memberikanku kepada orang tua angkatku. Menurut mereka, sejak kecil aku selalu diemong oleh Ibu angkatku, sering digendong. Bahkan, sampai diajak tidur di rumahnya lho! Aktivitas ini terulang setiap hari sehingga menjadi kebiasaan. Orang tua kandungku tidak pernah berpikir macam-macam, toh mereka juga diuntungkan. Masa itu, Ibu masih merawat lima saudara kandungku yang  masih kecil sedangkan aku masih berusia belum genap setahun, dan ia sudah hamil lagi. Ibu angkatku pun diuntungkan, ia merasa tak kesepian lagi. Rumahnya menjadi ramai ada suara tangis dan tawa balita.” Musa terdiam, lalu menghembuskan nafas panjang.
“Tiba-tiba, orang tua angkatku mengklaim diriku sebagai anaknya. Mereka menyiarkan kabar itu ke seluruh kampung. Bahkan, mereka sudah mengurus Akte Kelahiranku dalam Kartu Keluarga mereka. Mereka melakukan semua itu tanpa persetujuan dari orang tuaku, tetangganya sendiri,” Musa melanjutkan sambil meneteskan air mata. Ia sudah tak tahan lagi menahannya.
“Lalu, apa yang orang tuamu lakukan melihat kondisi tersebut, Bro?” Yusuf bertanya lagi sambil menepuk pundakku. Ia berlagak sok tegar, padahal ia pun tak tahan menahan air mata.
“Orang tuaku diam. Orang tuaku membiarkanku diklaim sebelah tangan oleh tetangganya sendiri. Mereka tipe manusia yang super pasrah dan menghindari konflik. Bagi mereka, lebih baik mengikhlaskan satu anak daripada harus berkonflik dengan orang lain. Mereka tidak mau punya musuh di desa.” Musa terhenti. Nafsnya tertahan. Tiba-tiba ia meledak.
“Bagaimana bisa mereka menyerahkanku kepada orang yang bahkan tidak pernah puasa dan hanya sholat setahun di hari raya? Bagaimana mereka sanggup melepasku kepada seorang pemimpin orkes yang setiap malam latihan dangdut bersama biduan-biduan kampung murahan dengan goyangannya dan mengeraskan suara nyanyian memakai loudspeaker sampai membuat bising tetangga? Bagaimana bisa mereka membiarkanku hidup bersama orang yang sering menonton video bokep dengan terbuka bersama teman-temannya di ruang tamu? Bagaimana bisa mereka mengikhlaskanku tinggal bersama orang yang selalu mengajarkan kata-kata umpatan keji kepada anak-anak kecil di desa sebagai hiburannya?” Musa meledak. Kali ini ia benar-benar meledak.
“Lalu aku harus bagaimana?” Musa menutup ledakannya.
Mereka terdiam, sambil menikmati sop buah spesial di meja mereka.

***
“Oleh sebab itu Bro, aku tak tahu rasanya kehangatan orang tua. Aku tak tahu apa makna rumah. Aku tak tahu tempat kemana harus kutuju ketika aku lelah. Aku tak tahu kepada siapa aku harus mengadu ketika aku ada masalah. Sejak kecil aku sudah terbiasa mandiri dan hidup sendiri. Aku terbiasa berinteraksi dengan isi kepalaku sendiri untuk memutuskan segala macam keputusan dalam hidupku, karena tak ada teman diskusi di keluarga. Tak ada pula teman diskusi yang dapat dipercaya” Musa memecah keheningan.
“What doesn’t kill you makes you stronger. Terimakasih Sahabatku, darimu aku belajar arti struggle.” Yusuf memeluk Musa dengan erat.
“sekarang gantian dong, kamu yang cerita tentang dirimu. Masa aku terus yang diinterogasi?” Musa balik tanya.
“Seriusan kamu nanya tentang aku dan keluargaku? Selama tiga tahun pertemanan kamu ga pernah tahu? Ya Allah bahkan Ibu Kantin pun tahu kalau aku itu pangeran tampan dari keluarga elit di kota ini Bro. Ayahku seorang politisi handal yang duduk di kursi pemerintahan, sedangkan ibuku pelaku bisnis fashion paling hits dan terkenal. Aku cuma punya satu adik perempuan, usianya tiga tahun dibawahku. Dia berparas rupawan seperti kakaknya, dan bakal meneruskan kutukan sebagai duta wisata di masa depan. Kurang apa lagi?” Jawab Yusuf percaya diri.
“Iya iyaaaaa…. anak hits ibu kota! Apalah aku ini, cuma serbuk koya dalam menu hidangan, Hahahaha” Ledek Musa sekenanya. Ia sadar akan latar belakang Yusuf yang begitu sempurna dan masih mau bersahabat dengannya. Bagi orang lain, dua orang ini adalah duo sahabat paling hits satu antero sekolah. Tapi bagu Musa, ia sangat beruntung dengan segala kemudahan dan perhatian dari sahabatnya yang sempurna.

“Oia, kamu sudah keterima di kampus negeri kan? Jadinya milih jurusan apa, Teknik Kimia atau Desain Produk Industri?” Yusuf ingin tahu keputusan Musa.
“Saudara-saudaraku sih ingin aku mengambil Teknik Kimia saja. Menurut mereka, lulusan Teknik lebih mudah mencari kerja dan bakal hidup enak di masa depan. Tapi, aku tahu mereka tidak berhak menentukan arah hidupku, orang tuaku sekalipun. Selain itu, aku juga sudah bosan bermain dengan angka-angka. Capek ah, dulu berkutat dengan olimpiade sains, Apakah sekarang masih saja di dunia teknik? Aku suka tantangan. Aku mau mencoba hal baru, Insyaallah Desain, Bro! Aku akan membuktikan bahwa dunia Industri Kreatif merupakan masa depan yang cemerlang” Musa menjelaskan keputusannya.
“Nice choice, Bro! Insyaallah, aku juga akan mengambil Desain Komunikasi Visual. Kita jadi sekampus lagi! Kita dapat terus menjadi sahabat sampai kuliah, kayaknya seru! Tapi…” Yusuf terdiam.
“Tapi apa?” Musa kepo maksimal.

“Orang tuaku menginginkanku ikut tes ujian masuk STAN, Sekolah Tinggi Akuntasi Negara. Menurut mereka, hidupku akan lebih mudah kedepannya kalau menjadi alumni STAN. Insyaallah aku akan tetap masuk DKV bersamamu, tapi kalau kalau aku ketrima STAN, mohon maaf ya Bro, aku mau mengikuti harapan orang tuaku,” Jawab Yusuf ditutup dengan sinyum simpul. Ia menambahkan, “Semoga, perjalanan kita ke depan dapat menuntunmu untuk menemukan makna rumah, Bro!” pungkas Yusuf.

Comments

Popular posts from this blog

Home (1)

"You don't choose your family. They are God's gift to you as you are to them" Minggu pagi yang cerah, Matahari menebar secercah harapan hangat. Ia seakan mengusir rasa dingin akibat hujan badai tadi malam. Beberapa pohon tumbang di sepanjang jalan. Untungnya, masyarakat kompleks Sacharosa masih sadar hakikat gotong royong dan segera menyingkirkan hambatan jalan. Tidak biasanya, hujan dan angin ribut sampai mematahkan pohon-pohon pemagar jalan. Musa, seorang anak kelas 3 SMA mengayuh sepedanya dan bergegas menuju gedung sekolah untuk mengerjakan proyek seni akhir tahun. Ia mendapat amanah sebagai penanggung jawab dekorasi acara tahunan paling meriah di sekolah maha hits di kota itu. Bersama teman-temannya, ia membuat konsep yang spektakuler yang belum pernah ada, “Rumah”. Ia mengerjakan dekorasi musikalisasi drama bertema “rumah”, yang menceritakan semua anak lulusan sekolah itu harus bertebaran di seluruh bumi untuk menggapai makna sukses versi terbaiknya, kemudi...

Home (3)

“If you experience any emotion like frustration, hesitation or anger while planning your dream life , means you need to clear some mental blocks.”  Tak terasa, hampir empat tahun Musa menimba ilmu di kampus Desain. Sebagai mahasiswa yang sudah mandiri sejak kecil dan tidak menggantungan finansial kepada orang tua sejak SMA, tak terhitung jumlah keringat dan air mata yang ia keluarkan. Saat ini ia baru menyelesaikan Tugas Akhir untuk melalui sidang skripsinya. Sungguh perjuangan yang tak mudah, tapi tak mustahil pula. Sebagai delegasi Mahasiswa Berprestasi kampus desain tahun lalu, serta berbagai prestasi yang pernah ia raih, ia merupakan kandidat kuat sebagai Student of the year, wisudawan terbaik. Pesta kelulusan akan digelar minggu depan, tinggal menghitung hari. Suatu hari, ia dihubungi oleh seorang reporter surat kabar lokal untuk membuat profil inspirasi perjuangan seorang Musa, namanya Muhid. Mereka menyepakati untuk bertemu di sebuah kafe Jumat sore. Sepulang Sholat...