"You don't choose your family. They are God's gift to you as you are to them"
Minggu pagi yang cerah, Matahari menebar secercah harapan hangat. Ia seakan mengusir rasa dingin akibat hujan badai tadi malam. Beberapa pohon tumbang di sepanjang jalan. Untungnya, masyarakat kompleks Sacharosa masih sadar hakikat gotong royong dan segera menyingkirkan hambatan jalan. Tidak biasanya, hujan dan angin ribut sampai mematahkan pohon-pohon pemagar jalan. Musa, seorang anak kelas 3 SMA mengayuh sepedanya dan bergegas menuju gedung sekolah untuk mengerjakan proyek seni akhir tahun. Ia mendapat amanah sebagai penanggung jawab dekorasi acara tahunan paling meriah di sekolah maha hits di kota itu. Bersama teman-temannya, ia membuat konsep yang spektakuler yang belum pernah ada, “Rumah”. Ia mengerjakan dekorasi musikalisasi drama bertema “rumah”, yang menceritakan semua anak lulusan sekolah itu harus bertebaran di seluruh bumi untuk menggapai makna sukses versi terbaiknya, kemudian pulang membangun “rumah”nya. Dengan semangat, ia kayuh sepeda butut dari tempat kos yang hanya berjarak dua kilo dari sekolah.
“Pagi Yusuf! Wah rajin sekali sudah sampai sekolah sepagi ini” Musa menyapa sahabatnya di ekskul kesenian yang sudah sampai lima menit lebih awal.
“Pagi juga Musa! Iya dong, masa sampai lulus sekolah selalu jadi orang kedua terus, setelah kamu. Sekali-kali boleh dong aku jadi nomor satu” celetuk Yusuf bangga.
“Ah kamu, bisa saja! Aku ga pernah minta jadi nomor satu kok. Tuhan saja yang kelewat baik selalu memudahkan jalan menuju kursi tersebut.” Jawab Musa sekenanya.
“Aku percaya tak ada hasil yang mengkhianati proses bro! Apapun pencapaianmu saat ini, tentu karena kerja kerasmu, eh, maksudku usaha ekstra keras dan super cerdasmu! Di samping campur tangan Tuhanmu yang kelewat baik itu.” Yusuf menimpali.
“Aku masih sangat ingat dengan jelas, tiga tahun lalu kamu datang dari desa yang entah titik koordinatnya ada di peta atau enggak. kamu sebagai sosok yang humble dan tidak punya ambisi sama sekali. Eh sekarang juga masih humble dan tak berambisi sih! Tapi kamu berjuang dengan sangat keras hingga ada di posisi sekarang. Dulu orang hanya melihatmu sebagai bocah “ndeso”, sekarang jadi juara 1 Siswa Berprestasi di Lamongan. Tentu, untuk menjadi kandidatnya, berentet prestasi tak terhitung sudah kamu torehkan untuk sekolah. Mulai dari Olimpiade Sains Nasional sampai lomba desain dalam Pekan Seni Pelajar nasional kamu embat juga. Ck ck ck!” Yusuf melanjutkan komentarnya.
“Hahaha, kamu ini ngomong opo to le? Yuk kita ke gudang penyimpanan sambil mempersiapkan peralatan membuat spanduk, biar nanti kalau anak-anak sudah sampai langsung mengerjakan proyeknya,” sahut Musa dengan semangat.
“Siap laksanakan ketua! Semakin cepat semakin baik! Karena nanti sore aku mau diajak orang tuaku belanja ke Surabaya sambil nonton bioskop film terbaru,” ujar Yusuf.
Musa tersenyum simpul mendengar rencana sahabatnya. Ia mengalungkan tangannya di pundak sahabatnya itu dan bergegas menuju gudang. Namun yang namanya Yusuf, memang tak pandai untuk diam. Mulutnya terus nyerocos untuk menghangatkan suasana.
“Bro, kalau agendamu akhir pekan seperti apa? aku jarang banget lihat kamu pulang kampung seperti anak –anak desa yang ngekos kebanyakan. Saking jarangnya, terkadang aku sampai lupa kalau kamu bukan warga kota asli ya. Hahaha” Yusuf membuka diskusi dengan topik baru.
“Tidak ada. Akhir pekan paling olahraga, jogging keliling alun-alun kota. Agak siangan dikit main ke toko buku, tempat persewaan komik dan DVD, lalu tiduran. Terkadang kalau ada pekerjaan atau proyek semacam ini ya Alhamdulillah,” jawab Musa sekenanya.
“Memang berapa minggu sekali kamu pulang?” Yusuf tanya lagi
“Tidak tentu. Terkadang sebulan sekali, atau lebih lama dari itu. Apalagi sekarang, setelah kita menyelesaikan Ujian Nasional dan sibuk mengikuti bimbingan belajar di untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi impian kita kan? Jadi semakin jarang pulang deh” Musa mencoba menjelaskan frekuensi kepulangannya.
“Memangnya kamu tidak kangen sama orang tuamu di kampung?” Yusuf terus memberondong dengan pertanyaannya.
Musa terdiam sejenak, lalu menjawabnya, “Kangen itu seperti apa sih rasanya? Kangen rumah? Bahkan aku tidak tahu apa definisi rumah, apalagi orang tua. Sejak usia 7 bulan aku sudah diadopsi oleh orang lain, Bro. Tidak pernah merasakan kehangatan orang tua, hehe.”
Sekarang giliran Yusuf yang sedikit tercengang mendengar sahabatnya yang selama 3 tahun terakhir tidak pernah cerita apa pun,”Kok kamu ga pernah cerita?”
“Kan kamu ga pernah nanya!” Balas Musa singkat.
“Terus bagaimana kamu memenuhi kebutuhan sehari-hari kalau tidak pernah pulang? Apakah orang tua angkatmu memenuhi semua kebutuhanmu di sekolah elit yang tak murah ini?” selah Yusuf.
“Doa restu mereka saja sudah cukup bagiku. Walaupun, sampai sekarang aku belum yakin seratus persen kalau mereka merestuiku untuk sekolah di SMA terbaik ini. Orang tuaku di kampung hidup dengan sangat sederhana sebagai petani serabutan yang penghasilannya tidak menentu. Bisa makan saja sudah syukur lho! Kamu tahu nggak, tujuan mereka mengadopsi aku? Simpel, sebagai pasangan setengah baya berumur 60 tahunan yang tak punya momongan, mereka ingin investasi waktunya untuk membesarkan seorang anak supaya ada yang menemani dan mengasihi mereka di hari tua. Jadi, restu sekolah di sini sulit bukan hanya karena kondisi finansial keluarga yang mencekik, tapi juga keadaan mereka yang kesepian dan tak ingin ditinggalkan, untuk hal positif sekalipun. Oleh sebab itu, aku harus bekerja keras di kota. Selain bersekolah, aku harus bekerja paruh waktu. Selain itu, entah bagaimana caranya aku harus mendapat beasiswa prestasi sehingga terbebas dari berbagai macam biaya sekolah yang tak murah. Inget ya bro, gini-gini temenmu ini tak sudi mendapat beasiswa karena status tak mampu. Harus bergengsi, Beasiswa prestasi!” jelas Musa.
“Apakah sama sekali tidak ada ikatan yang kuat gitu? Sampai menimbulkan rasa kangen ingin pulang kampung?”
“Pertama, hubungan seorang anak dengan orang tua angkat itu tak akan pernah sehangat hubungan anak dan orang tua biologisnya. Sesayang apa pun mereka. Apalagi, untuk kasusku, orang tua tak berpendidikan dan sudah cukup berumur, sangat kolot dengan karakternya. Mereka sangat dingin. Kami tidak pernah berkomunikasi sejak aku masih kecil. Ibuku hanya bertugas mengurusi urusan domestik, seperti mencuci pakaian dan menyiapkan makan. Satu kalimat pertanyaan yang tak pernah berubah sejak dulu, “Nak, segera makan” sambil menyiapkan hidangan. Sudah, hanya soal makanan komunikasi kami. Kalau Bapak, tugasnya simpel, hanya marah-marah dan melindungiku dari segala macam bahaya dari luar yang menurut mereka sangat mengancam. Misal, aku dilarang bermain keluar rumah dengan jarak yang tak dapat dipantau mata mereka, RT sebelah misalnya. Aku juga dilarang bermain ke ladang, bermain layang-layang di lapangan, mencari ikan di sungai, dan berbagai kegiatan anak kampung pada umumnya. Padahal, Bapakku itu petani dan punya hewan ternak, dua sapi! Anak-anak sebayaku dulu umumnya membantu orang tuanya merumput untuk pakan ternaknya, kecuali aku. Coba bayangkan, mungkin aku satu-satunya anak kampung yang tak bisa berenang karena tidak pernah diizinkan main keluar rumah. Intinya, tugas Ibuku hanya memastikan aku makan, tugas Bapakku memastikan aku tidak keluyuran. Sudah. Terkait hal lainnya, misalnya pendidikan agama, sekolah, hobi dan kegemaran, mereka tak akan ambil pusing. Entah aku mau sekolah atau alasan sakit dan bolos tiduran seharian, terserah aku.” jelas Musa panjang lebar supaya sahabatnya sedikit mengerti keadaannya.
Musa melanjutkan, “Kedua, karena hubungan kekeluargaan di rumah kelewat dingin, aku tak punya alasan untuk pulang. Kalaupun aku pulang, alasannya sederhana. Sebagai orang yang memberiku makan dan tempat tinggal sejak kecil sampai aku berusia 15 tahun (lulus SMP), mereka punya hak untuk melihatku tumbuh dan berkembang. Sudah!Kebutuhan sehari-hari, aku harus memenuhinya sendiri. Tak mungkin aku merepotkan mereka lagi. Aku sudah sangat bersyukur Allah masih memberiku tumpangan untuk tumbuh. Masih jelas dalam ingatan, ketika masih balita, Bapak selalu membawaku di dalam keranjang depan sepeda ontelnya ke mana pun ia pergi. Ke warung, ke pasar, ke rumah sanak saudaranya di kampung sebelah. Dengan bahagianya ia mengumumkan kepada semua orang kalau aku adalah anaknya, anak kesayangan satu-satunya. Ia melakukan apa saja supaya aku betah di rumah. Membelikan buah-buahan mewah versi desa seperti anggur dan apel merah, serta makanan-makanan mahal seperti daging. Ia membuatkan layang-layang “soang” yang super besar dan menerbangkan di depan rumah. Ia membuatkan rumah pohon di sebelah pekarangan. Ia belajar, tiga kali ia gagal mengadopsi anak dan tidak ada yang betah tinggal bersama mereka. Anak-anak itu menangis dan ingin pulang ke rumah orang tua biologisnya. Sayangnya, ketertarikan itu tak bertahan lama. Sejak aku mulai masuk sekolah, aku sadar bahwa ilmu pengetahuan itu jauh lebih seksi daripada tindakan-tindakan konyol Bapak dalam mencari perhatianku. Untungnya, aku tidak pernah berpikiran untuk kembali ke rumah asal. Bagiku, memperoleh nutrisi yang cukup untuk tumbuh besar serta tak mengekangku itu sudah cukup. Alhasil, keadaan rumah semakin dingin. Tak ada komunikasi verbal antara aku dan orang tua. Rumah hanya ramai dengan kegaduhan dan pertengkaran sangat-tidak-penting Bapak Ibuku. Misal, masakan Ibu terlalu asin atau Bapak pulang dari sawah kesorean. But yeah, I don’t give a damn! Aku tak mau ambil pusing dengan pertengkaran konyol mereka.”
Musa terdiam sejenak melihat wajah sedih Yusuf. Matanya berkaca sambil berkata, ”Maaf ya Bro, aku tak pernah tahu kalau kehidupanmu sekeras itu. Aku merasa sangat bersyukur dengan keadaanku sekarang. Tapi jujur ya, aku jadi penasaran, sebenarnya motivasimu untuk maju sampai ke titik ini itu apa sih? Kalau dari ceritamu, aku yakin bukan sekedar eksistensi dan pembuktian ke orang tua kan? Lha wong mereka tidak peduli dengan aktualisasi dirimu. Mereka cuma peduli urusan perut supaya kamu tak kelaparan”
“Pertanyaan yang bagus! Sekedar informasi aku selalu mendapat peringkat pertama di sekolah sejak masuk TK, sampai sekarang. Aku selalu mendapat piala kemenangan dan hadiah tahunan sekolah berkat prestasiku. Kalau dihitung, piala di rumah hasrusnya sudah belasan sih. Tapi sekarang jumlahnya tinggal sedikit, paling yang utuh tidak sampai lima buah. Kamu tahu ga kenapa? Ibuku membagi-bagikan pialaku ke saudaranya di kampung sebelah! Kalau ada bibi yang berkunjung ke rumah, terkadang mereka memintanya dengan terbuka, di depan mataku. “Aku minta satu ya, buat hiasan di rumah.” Sebelum ibuku menjawab, aku sempat meliriknya tajam supaya ia sadar kalau piala itu tak sekedar barang hiasan, tapi sebuah bukti pencapaian yang penuh perjuangan untuk mendapatkannya. Namun, aku tak berharap banyak dari seorang perempuan tua berusia 60 tahun yang tak pernah memakan bangku sekolah itu. Dengan mudahnya, ia mengiyakan permintaan saudaranya. Hmmm, baiklah. Kamu benar sekali bro, aku sampai di titik ini bukan karena ingin membuktikan ke mereka kalau aku bisa. Karena yang mereka butuhkan hanya seorang anak desa biasa yang mau tumbuh dan menemani mereka di masa tua yang mana itu sama sekali bukan kriteria seorang Musa yang mau berdiam diri di sebuah kampung dalam waktu yang lama.” Musa terhenti sejenak. Sangat jelas, ia mencoba untuk menahan emosinya. Kemudian ia melanjutkan, “Aku pun tak tahu, untuk apa semua ini? Untuk apa semua prestasi dan pencapaian yang luar biasa ini? Semua terjadi begitu saja. Aku merasa Tuhan menuntunku sampai pada titik ini penuh dengan kemudahan, walaupun tanpa motif yang kuat. Yang aku yakini, adapun pencapaianku sekarang, Insyaallah Ia punya rencana yang indah untukku di masa depan. Aku ikuti jalan yang dibuatnya saja.” Ia terhenti, tersenyum.
“Kamu masih ingat nggak prestasi terakhirku sebagai perwakilan pemuda untuk program student Exchange ke Belgia beberapa bulan lalu? Aku mendapat kabar dari tetanggaku kalau orang tuaku pinjam uang beberapa juta. Apakah kamu dapat menebak, alasannya untuk apa? Katanya untuk segala kebutuhanku sekolah dan beberapa program ke luar negeri. Padahal, sepeser pun aku tak minta mereka ketika aku masuk SMA. Bahkan, uang simpanan yang aku dapatkan dari kompetisi dan olimpiade sekolah, beberapa kali hilang. Padahal aku selipkan di dalam Al-Quran dan aku taruh di dalam kamarku. Karena hilang tak hanya sekali, dan aku membutuhkannya untuk membayar biaya bimbel ini, aku sempat memberanikan diri bertanya kepada mereka. Dan, yup, dengan wajah polos tanpa merasa berdosa, mereka mengakui mengambil uang itu untuk kebutuhan pertanian. Mereka berpikir, semua barang milikku di rumah adalah menjadi hak bersama, sepenuhnya. Astaghfirullah... kuatkan aku ya Allah.” Musa menambahkan penjelasannya.
“Bro, aku bingung mau berkata apa. Hubungan keluargamu sangat rumit. Kalau boleh tahu, sejak kapan kamu tahu kalau kamu anak adopsi? Apakah kamu tahu di mana orang tuamu sebenarnya” Yusuf kembali bertanya.
“Aku tahu sejak kecil kalau aku itu anak adopsi. Bagaimana tidak, lha wong orang tua angkat mengambilku dari keluarga di depan rumah! Tetangga! Jadi sejak kecil aku tahu siapa orang tuaku. Aku tahu kalau aku merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara,” Jawab Musa.
“Lha, kalau begitu kenapa kamu masih tinggal bersama orang tua angkat?” tanya Yusuf ulang. Seakan ia tak percaya dengan keputusanku.
“Pulang ke orang tua biologis maupun tinggal bersama keluarga angkat, keadaan tidak berubah jauh Bro! Dulu ketika masih kecil sempat berpikiran untuk kembali ke orang tua kandung. Tapi setelah mengetahui semua kisah dibalik kejadian alasan kenapa aku diadopsi sampai sekarang, aku jadi semakin tidak mau pulang dan sepakat bahwa aku masih belum menemukan apa arti rumah.” Musa menjawab tegas.
Dari kejauhan, tampak beberapa teman mereka sudah sampai di sekolah untuk mengerjakan proyek seni akhir tahun. Yusuf memeluk Musa seraya berbisik, “Kapan-kapan tolong diceritakan tentang kisah pengadopsianmu sampai kamu tak tahu makna rumah ya?”.

Comments
Post a Comment