"Sometimes life is about risking everything for a dream no one can see but you"
“Ciye, S.T, Sarjana Tampan!” Idris ngeciyein Musa yang baru pulang dari Bachelor Party di kampusnya.
“Ciye, Sarjana Terbaik dari semua Sarjana Tampan yang ada,” Idris tak berhenti ngeciyein sahabatnya itu. Walaupun tampak lelah, ia juga kelihatan sangat bahagia. Ia melepas kostum bajak lautnya dan memakai sarung sederhananya. Setiap tahun Mahasiswa desain memang selalu membuat pesta wisuda paling heboh seantero kampus. Kali ini, temanya adalah pirates! Duh kuliah desain memang menyenangkan, kreativitas tak ada matinya!
“Ciye Sarjana “Pirates” Tampan yang berhasil memboyong “One Piece” pulang. Sayangnya kok ganteng-ganteng gini masih jomblo hahahaha” Idris tak henti-hentinya meledek sahabatnya itu. Musa pun melempar Idris dengan boneka wisuda dan buket bunga tujuh rupa ke mukanya.
“Bagaimana tadi pagi acara wisudanya? lancar kan? Sepertinya tadi aku melihat rombongan keluargamu ke gedung satu mobil penuh ya?” Idris mulai bertanya serius dengan teman sekamarnya itu.
“Alhamdulillah orang tua kandung dan angkatnya datang, ada juga kakak kedua beserta istrinya, kakak ketiga beserta istri dan anaknya, serta kakak kelima dengan suami dan dua bayinya. sayangnya, Ibu kandungku tidak berani ikut rombongan. Takut mabuk darat. Maklum, orang kampung, jarak kota ini dari desaku sekitar 4 jam perjalana dengan kecepatan mobil.” jelas Musa.
“Wow, tumben tuh orang tua angkat dan kandungmu bisa akur gitu. Cerita dong drama yang terjadi di baliknya?” Idris kepo maksimal.
“Hahaha tahu aja bakal ada drama. Tadi diceritakan kakak kalau ayah kandungku hampir tidak berangkat. Bayangin saja, semua akomodasi sewa mobil dan supirnya dibiayain ayah kandungku dari hasil ia jualan hasil panen kemarin. Sedangkan undangan untuk keluarga yang diperbolehkan masuk gedung kan cuma dua ya. Pikirku, akan dibagi rata. Satu untuk orang tua kandung, satu orang tua angkat. Eh, ternyata diembat keduanya sama orang tua angkat. Bahkan mereka tidak bisa membantu iuran sewa mobil lagi. Kan Ayah kandungku jadi kesal. Kalau bukan demi aku, katanya, dia tak akan sudi semobil dengan orang egois seperti mereka, Hahahahaha.” Jelas Musa.
“ya ya ya, aku dapat membayangkan posisi ayahmu lah. Aku tak akan komentar insiden itu. Yang pasti, aku yakin mereka semua pasti bangga denganmu Musa. Satu-satunya anggota keluarga , atau mungkin yang pertama dari kampungmu, yang berhasil meraih gelar sarjana, dari salah satu kampus teknik negeri terbaik bangsa lagi. Sudah gitu, jadi lulusan terbaik pula! Tak akan sia-sia pengorbanan mereka datang ke kota” Idris memuji tanpa pamrih
“Lalu bagaimana rencanamu bergabung dengan program relawan mengajar di pedalaman selama setahun itu? Jadi kan?” Idris melanjutkan.
“Insyaallah jadi, tapi sekarang belum waktunya,” Musa menjawab dengan nada lesu.
“Lho kenapa? Bukannya itu impianmu dari dulu?” Idris mencoba menyulut semangat pengabdian sahabatnya.
“Keluargaku tidak ada yang setuju, terutama kakak keduaku yang materi sentris. Katanya buat apa ikut program sosial kalau diri kita sendiri masih butuh bantuan. Dia berargumentasi kalau aku ikut program itu sama dengan mendzolimi diri sendiri dan keluargaku yang masih butuh bantuan finansial. Aku sebenarnya tidak paham dengan pola pikir mereka. Entah mereka yang terlalu berorentasi materi atau aku yang terlalu sosial sentris.” jelas Musa singkat.
“Lalu, bagaimana tanggapanmu Bro?” Idris melanjutkan.
“Kedua pendapat kami tidaklah benar mutlak. It isn’t good, it isn’t bad. It is what it is. Kami punya latar belakang masing-masing sehingga mendasari pemikiran kami itu. Bagi kakak-kakakku yang dari kecil hidup miskin dan serba kekurangan, mengumpulkan materi dan mengangkat derajat keluarga di mata masyarakat dengan menjadi orang kaya adalah cara yang paling efektif dan menjadi prioritas mereka. Bagiku, seorang yang tak pernah merasakan kehangatan keluarga dan tak pernah tahu dari definisi rumah, berpetualang mencari pengalaman dan mengumpulkan ilmu pengetahuan serta berkontribusi untuk misi kemanusiaan adalah prioritasku. Aku tak menyalahkan keduanya,” Musa mencoba menjelaskan.
“Namun, bagaimanapun juga, aku masih bagian dari sebuah sistem. Sistem keluarga, sistem masyarakat. Aku menghargai pendapat saudaraku, apalagi melihat kehidupan keluargaku di kampung yang tak kunjung membaik.” Musa menambahkan.
“Artinya, kamu akan mengubur mimpimu dan menyerah pada harapan keluargamu?” Idris menyela.
“Aku suka sarkasmu Bro. Iya, dan Tidak! Aku akan menggantung mimpi itu sementara dan sambil mempersiapkannya lebih matang, aku akan melakukan permintaan keluargaku itu. Insyaallah dalam waktu kurang dari setahun akan kubuktikan kalau mengumpulkan materi itu mudah. Akan kubawa materi untuk membantu mereka sejenak, dan aku akan melambung lebih tinggi setelah itu.” Musa menampik sindiran sahabatnya.
“Tahu ga apa yang ada dalam pikiranku? Kamu itu sangat rumit Bro. Dengan segala pengalaman hidup dan perjuangan selama ini, Bukankah kamu merasa tak ada kedekatan emosional dengan mereka? Bukankah kamu selalu berkata kalau tak ada satu pun orang yang berhak menyetir jalan hidupmu? Lalu, kemana Musa yang selama ini aku kenal?” Idris semakin membakar Musa.
“Insyallah aku sudah dapat menerima diriku Bro. Insyaallah aku sudah belajar menerima keluargaku. Insyaallah aku sudah menerima Qodho’ku Bro. Namun ibarat sebuah kayu yang sudah ditancapkan paku, walaupun pakunya dilepas, tentu masih ada bekas. Kamu benar, sekalipun aku sudah menerima semuanya, bukan berarti aku dapat menumbuhkan kedekatan emosi dan kehangatan rumah seutuhnya. Kamu tahu ketapel saudaraku? aku akan sedikit menarik diri dari mimpi itu untuk melesat lebih cepat ke depan. Sekalian menarik diri, aku mau memperbaiki peranku sebagai anak dan sebuah bagian dari sistem keluarga itu.” Musa menjelaskan
“Kamu sungguh rumit, aku tak mengerti lagi. Tapi aku akan selalu mendukung keputusanmu Bro. Aku selalu membayangkan bagaimana rumitnya menjadi dirimu yang harus cerdas mengambil keputusan dari kecil, tanpa campur tangan orang lain,” Ujar Idris
“By the way, bagaimana cara kamu menjadi pengepul materi duniawi sebagai alat pembahagia keluargamu dengan singkat itu?” Idris melanjutkan
“Aku belum tahu bagaimana caranya. Namun aku yakin kalau Allah itu tak pernah tidur. Sampai detik ini pun ia selalu menuntun segala langkahku. Aku tak tahu hari esok, siapa tahu ada anak gadis presiden menjatuhkan hartanya dari helikopter tepat di atas kepalaku? Siapa tahu, Hahahaha” Musa mengkhayal.
“Hahahaha, ngayal kamu Bro! gantengan juga aku. Apapun itu, aku percaya kok setiap orang sudah diatur rejekinya oleh Allah. Kamu pasti bisa melampaui semua itu,” Idris meyakini kepercayaan Musa.
“Maukah kamu menjadi alarm hidupku, Saudaraku?” Musa menambahkan.
“Jangan menyesal ya! Kurang dari setahun akan aku teror dirimu dengan peringatan segala mimpimu! Bertebaranah di muka bumi saudaraku dan temukan arti rumah versi terbaikmu,” Idris menutup obrolan dengan hangat.
***
"The future belongs to those who beliefe in their dreams"
(Sembilan bulan kemudian)
Salah satu hotel paling mewah di Surabaya sedang mengadakan sebuah konferensi internasional bidang lingkungan hidup bertaraf high level dari 30 negara di seluruh dunia. Semua delegasi negara sudah menempati kursinya dan satu per satu mereka berbicara ke podium untuk menyuarakan aspirasi dari negaranya untuk mengatasi pemanasan global. Seorang wartawan surat kabar lokal tampak dari kejauhan dengan keringat sebesar jagung setalah berlari menuju meja registerasi. Muhammad Idris, begitu ia menuliskan namaya dalam daftar biro pers yang meliputi konferensi global itu. Ia segera masuk ke aula utama tempat diselenggarakan acara.
Ia mencoba mengerti konten konferensi itu dari seminar kit yang ia dapatkan dari meja registerasi. Sambil membaca beberapa jurnal ilmiah dan resolusi masing-masing negara, ia juga berusaha mendengarkan pidato dari para perwakilan di depan. Ia tampak mengernyitkan wajah, tanda kalau ia kesulitan memahami bahasa Inggris. Anehnya, tiba-tia ia malah tertarik pada sebuah sosok pemuda Jawa yang duduk bersama pria Belanda dan Jepang di bagian depan, tempat pimpinan konferensi. Ia yakin betul bahwa sosok pemuda itu adalah sahabat dekatnya ketika kuliah dan teman sekamar ketika di asrama mahasiswa. Spontan ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan WA ke saudaranya itu, “Dear Mr Musa, would you like to drink a tea with me in the lunch break season? I have a lot of things to ask. Regards, a young profesional journalist, Idris.” tak lama kemudian, ia mendapat balasan berupa emoticon jempol. Senyum pun mengembang di wajahnya. Tak sabar ia menjabat tangan dan memeluk sahabatnya itu.
“Hey, kok kamu bisa di sini? Kebetulan sekali ya” Sapa Musa mendekati sahabatnya di meja makan prasmanan.
“Bukannya kebalik ya? Kok kamu yang berada di sini? Aku kan pasti selalu eksis di setiap acara hits di kota ini.” Jawab Musa.
“Oia, bener juga! Hahaha. Gimana kabar Bro? seru banget kayaknya jadi wartawan profesional,” celetuk Musa.
“Iya dong, serunya tak ada matinya. Emangnya kamu, dulunya wartawan empat tahun selama kuliah malah setelah lulus tidak melanjutkannya? Hahahaha. Jadi, apa yang kamu lakukan di sini bro? tanya Idris.
“Sekarang aku jadi konsultan di salah satu pusat studi strategi lingkungan global yang berkantor di Fukuoka Jepang Bro. Lumayan seru sih, partner dari berbagai macam negara. Jepang, China, Singapore, Belanda, UK dan masih banyak lagi lainnya.” Jelas Musa dengan rendah hati.
“Tuh kan, bener apa aku bilang dulu. Tangga kesuksesan kamu mah memang sudah diatur dan dimudahkan sama yang di atas. Sebagai konsultan organisasi multinasional, tentu gajinya gedhe juga dong? Berarti target kamu sudah komplit dong?” tanya Idris lagi.
“Hahahaha, bisa saja kamu. Insyaallah cukuplah pendapat di sini. Cukup untuk sedikit membantu keluarga dan untuk hidup foya-foya. Hahaha, kidding. Aku bahkan tidak tahu apa makna foya-foya.” Musa menjawab dengan tertawa.
“Sorry kalau aku menjadi alarm lebih awal. Bagaiman dengan mimpimu menjadi relawan pengajar di pedalaman itu? impian itu masih ada kan?” tanya Idris lagi.
“Nggak apa apa kok Bro, aku malah senang kalau kamu mengingatkanku hal itu.” Ia menjawab Idris sambil mengeluarkan dompetnya serta mengambil sebuah kartu nama yang bertuliskan, “Musa, Pengajar Muda VIII”. Ia melanjutkan jawabannya, “Aku bahkan sudah membuat kartu nama virtual sehingga mengingatkanku akan mimpi itu. Terima kasih atas perhatiannya Bro,” Musa memeluk Idris. “Insyaallah aku sudah mendaftar untuk pembukaan batch sekarang dan sudah lolos tahapan seleksi berkas. Terpilih 200 kandidat dari 10.000 lebih pendaftar, aku salah satunya. Mohon doanya ya, dua minggu lagi akan ada seleksi tahap selanjutnya,” ia melanjutkan.
“Lalu bagaimana dengan kerjaanmu? Bukannya job kamu sekarang sudah enak ya. Kerjaan kantoran, pakai pen dan otak, di dalam ruangan ber-AC, sering keliling dunia untuk meeting, dll. Apakah kamu yakin bakal meninggalkan ini semua untuk mengajar anak-anak di pedalaman selama setahun?” Idris masih tak percaya dengan keistiqomahan Musa.
“Kamu seperti baru kenal aku saja Bro. Sebenarnya kontrak projek ini masih sampe tiga tahun ke depan serta masih ada kemungkinan untuk diperpanjang. Gajinya juga sangat besar, sehingga aku bahkan mampu membeli dua motor tanpa kredit untuk keluarga di rumah, serta membelikan tablet untuk alat pembelajaran keponakanku.” Musa terdiam, lalu ia melanjutkan, “the future belongs to those who beliefe in their dreams. Insyaallah aku yakin akan mimpiku. Aku akan meninggalkan segala kemewahan ini untuk mencari ketenangan batin di suatu tempat terpelosok tanpa sinyal tanpa listrik dan hidup berdampingan dengan alam. Orangtua dan saudara-saudaraku sudah tak bisa berkata apa-apa dengan pembuktianku kalau dunia itu mudah untuk di dapat.”
“Rumah! carilah makna rumah versi terbaikmu saudaraku. Apabila kamu merasa lelah dalam pencarianmu, Ingatlah, kamu masih punya aku. Silahkan singgah kepada sahabatmu ini kapan pun kamu butuhkan.” Idris menutup percakapan dengan senyum bahagia dan menepuk pundak sahabatnya dengan bangga.
“Aku selalu bangga denganmu, Musa.”

Comments
Post a Comment